Jumat, 11 Februari 2011

mimpi sore

gue mau share mimpi gue saat tidur sore hari ini (ngebayar tidur gara2 baru tidur 3,5 jam kemarin malemnya)
mimpi ini bener2 kerasa nyata, tiap sentuhan sama orang berasa banget sentuhannya, tiap ada gue nangis di mimpi itu, berasa banget kesedihannya. tapi alhamdulillah gue nggak bangun dengan keadaan nangis.

jadi garis besarnya adalah, gue mimpi gue meninggal.
ya, meninggal dunia.
tapi, gue masih hidup sebagai roh dengan wujud gue yang beneran gue.
pernah nonton film Ghost Town? nah, gue jadi kayak Frank di film itu.
sudah meninggal, tapi masih 'gentayangan' karena urusan2 yang belum selesai.

pertama gue akan menceritakan kenapa gue meninggal di mimpi gue itu.
ini yang gue ingat aja ya. tapi sejujurnya memang ini yang bener2 terjadi di mimpi gue.
jadi ceritanya rumah tetangga gue ada yang diserang dan dibakar secara kejam.
penyerangnya banyak, mereka semua bersenjata api dan motifnya entah kenapa.
warga2 komplek gue berusaha memadamkan api dan menyelamatkan tetangga gue itu.

akhirnya keadaan chaos. jadi ribut.
gue dan beberapa orang mencoba untuk menyelamatkan diri.
lalu tiba-tiba gue terkena peluru nyasar. berkali-kali.
gue langsung jatuh.
anehnya, gue nggak merasakan sensasi sakit yang luar biasa.
yang gue tahu, gue langsung nggak bisa nafas dan pandangan gue buram.
gue mencoba bernafas, nggak bisa.
seolah gue lagi berada di ruang hampa udara.
pada saat itu, gue berpikir, "oke, gue akan mati. gue akan mati..."
tiba-tiba semua gelap.....

gue merasa gue sempet nggak sadarkan diri selama beberapa menit.
dan pada saat gue bangun, ternyata itu udah tiga hari berlalu.
ya, gue bener meninggal.
gue melewatkan acara pemakaman gue.
di satu sisi, gue jadi nggak bisa lihat siapa aja yang dateng pemakaman gue.
di sisi lain, gue lega karena nggak perlu melihat wajah keluarga dan sahabat gue saat gue dimakamkan.

dan yang aneh, gue tidak bernafas sama sekali.
tepatnya, gue tidak perlu bernafas karena ada dan tidak ada oksigen udah nggak ngaruh lagi buat gue.
gue sekarang hantu.

gue bangun dalam keadaan berada di kampus.
di koridor antara persimpangan gedung B-kanlam-gedung C/perpus
karena banyak anak psiko, gue pun berjalan ke kanlam
tapi gue sadar, gue sudah meninggal pada saat itu.
lalu kenapa gue bisa ada di kampus?

gue mencoba manggil orang, nggak ada yang nengok.
ya, karena gue sekarang hantu.
akhirnya gue mencoba memanggil Dea Mariska (psiko 08) yang kebetulan lewat di situ
alhamdulillah, Dea nengok.
dia cuma mandang gue dengan sedih.
lalu gue tanya ke dia, gue pun mulai nangis
"De, gue mau tanya. apa pada saat pemakaman gue, banyak yang dateng?"
"iya, kak" jawab Dea.
"apa mereka semua nangis De?"
"semua kehilangan lo kak" kata Dea sebelum dia berlalu.
gue nangis di situ. sedih banget.

terus gue raba kantong gue. blackberry gue masih ada.
ada BBM masuk. gue baca.
BBM dari Hiki, sahabat gue.
gue baca, ternyata dia curhat soal KKN-nya. *ya, sekarang dia lagi ikut KKN dari kampus*
dia bilang dia nggak betah.
bawahnya dia bilang dia kangen sama gue.
terus dia nge-ping.
berarti... dia nggak tau kalo gue udah meninggal?

gue mau bales dan bilang yang sejujurnya.
tapi nggak mungkin.
dia akan ngira gue bercanda.
"sudah meninggal, tapi balas BBM? ngga lucu!"
akhirnya gue diamkan saja.
tapi gue menangis lagi.

gue berbalik badan, tiba2 gue sudah berada di sebuah ruangan kecil mirip gudang. pas gue liat ke jendela, ternyata ini lantai 18.
gue bersama seorang laki-laki berbadan tinggi besar yang gue nggak tau siapa.
dia kelihatan frustrated.
gue tanya, "mas, kita kekunci di sini?"
dia nggak bilang apa2. dia cuma nunduk, terduduk lemas.
tiba-tiba pintu dibuka, masuklah pelatih paragita, paduan suara gue, namanya mas nyonyon, bersama dengan tiga anak paragita lainnya
"MAS NYONYON!" panggil gue.
tapi Mas Nyonyon nggak nengok.
dari belakang mas nyonyon ada ferdi, salah seorang sahabat gue juga.
dia bisa liat gue, dia nyamperin gue.
gue cuma bisa nangis, dan entah kenapa gue minta maaf sama dia.
dia senyum, megang tangan gue
dan dia semacam bilang, "you'll be okay"
tiba-tiba mas nyonyon marah, tapi marah2 yang nggak sama orang tertentu.
marah ngedumel gitu.
dan gue merasa lantai bergetar.
gue melihat ke luar jendela. rupanya ruangan ini ada di sebuah menara tinggi di sebelah gedung pusat perbelanjaan.
dan gue menyadari, ini bukan getaran lantai, tapi pergeseran.
menara ini akan segera jatuh.
semua panik, termasuk laki-laki yang tadi terlihat sangat stres.
jantung gue berpacu cepet banget.
gue pasrah. gue siap mati.

tapi..
gue kan udah meninggal.
oke, gue berharap saat menara ini jatuh, gue nggak akan merasakan sakit.
gue memejamkan mata.
menara ini pun terjatuh.

gue membuka mata.
gue sudah berada di satu ruangan luas, kayak tipe2 ruangan yang biasa dipake latihan nari atau rekaman.
di depan gue ada 'dia'.
laki-laki yang gue cintai diam-diam selama dua-tiga tahun ini.
kenapa ada dia?
dan kenapa cuma ada dia?

dia senyum ke gue.
gue nangis lagi. tapi dia menenangkan gue.
akhirnya gue membuka pembicaraan.
gue inget kalimatnya walaupun nggak persis.
"harusnya gue ngomong ini pas gue masih hidup. karena kalo gue ngomong sekarang udah ngga guna."
dia megang tangan gue, seolah memberi dukungan untuk gue menyatakan itu.
"gue cinta sama lo"
there, I said it.
dia tetap senyum sambil memegang tangan gue.
nangis gue makin kejer.
tiba-tiba dia meluk gue, dan dia bilang terima kasih.
gue lega banget saat itu.

saat gue melepas pelukan dia, posisi gue berubah lagi.
gue ada di trotoar jalan raya, dan ada imel (Sahabat gue anak psiko 07)
"yuk ay, kendaraannya udah mau dateng" kata imel
kendaraan? kendaraan kemana?
perasaan gue dan imel nggak searah pulangnya?

dengan bingung, gue ngikutin imel.
sambil jalan, gue mikir.
apa maksud imel, kendaraan gue ke 'peristirahatan' gue?
apa udah saatnya gue bener2 ninggalin dunia?
akhirnya sampailah di depan sebuah kendaraan mirip bus yang gue agak samar bentuknya, dan siapa aja yang ada di dalemnya. gue nggak inget bentuk persisnya.
imel cuma nunggu di pintu masuk ke kendaraan itu dengan ekspresi datar.
gue melangkahkan kaki naik ke kendaraan itu, dan gue pun terbangun.

bangun beneran, bangun dari tidur.
gue bangun dengan rada sesak nafas dan jantung gue bener-bener berpacu cepet banget.
akhirnya yang gue lakukan saat itu, gue langsung ambil nafas dalam-dalam.
alhamdulillah, cuma mimpi.
alhamdulillah, gue masih hidup.

gue bangun, gue sedih, gue mau nangis rasanya.
entah kenapa, yang pasti gue sedih.
banyak banget kesempatan yang gue sia-siain.
banyak banget kata-kata, pengakuan, yang masih gue simpen sendiri sekarang.
gue tau harusnya gue katakan, harusnya gue lakukan, tapi gue masih diam.
gue seolah dikasih insight bahwa gue jangan nyia-nyiain kesempatan selagi gue masih hidup.

mimpi tadi berkesan banget buat gue.
walau gue nggak tau artinya, dan ada apa dengan tokoh-tokoh yang terlibat.
random banget.
tapi gue yakin pasti ada pesannya.
mimpi nggak sekedar bunga tidur.
mimpi itu represi dari kenyataan dan keinginan.
*kalo mimpi meninggal bukan represi keinginan sih ya*

okay. I guess that's it for the story of my dream.
thankies!

N. Rianto

4 komentar:

  1. ai.. gw bacanya merinding..
    gw jg pernah mimpi meninggal, mimpi gempa bumi, mimpi di tengah laut,,
    i hope u really have the 'point' of your dream..
    have a nice sleep, dear.. :)

    BalasHapus
  2. iya kak, gue jg pernah mimpi berada di tengah bencana, tengah chaos, takut banget..
    tp mimpi meninggal baru sekali ini dan langsung bener2 campur aduk perasaannya..

    iya, semoga bener2 bisa menerapkan insight yang gue dapet..
    makasih ya kak tyas udah bersedia baca dan komen! seneng banget :))

    BalasHapus
  3. wooooowww.. mengharukan sekali mimpi lu itu Ai..
    insight-nya "dapet" bgt sih..
    smoga kita msh diberi kesempatan untuk memperbaiki diri ya biar ga menyesal "nantinya"....

    BalasHapus
  4. ai, makasih udah share. jadi reminder banget nih :)

    BalasHapus